Belajar Hemat Sejak Dini, SDN 218 Congkoe Sulap Uang Jajan Jadi Tabungan

Kepala SD Negeri 218 Congkoe, Mariati, S.Pd., bersama Peserta didik mengikuti gerakan gemar menabung melalui kerja sama dengan OTO Kas Bank Sulselbar, Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu praktik baik sekolah dalam menanamkan budaya menabung dan literasi keuangan sejak dini.

KABARPENDIDIKAN.NET
— Kebiasaan menyisihkan sebagian uang jajan setiap hari mulai ditanamkan kepada peserta didik SD Negeri 218 Congkoe sebagai bagian dari upaya membangun budaya menabung sejak dini. Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan OTO Kas Bank Sulselbar dan berlangsung pada Kamis (24/9/2026).

‎Gerakan gemar menabung ini menjadi salah satu praktik baik yang dapat diterapkan secara sederhana di lingkungan sekolah. Peserta didik diajak memahami bahwa menabung tidak harus dimulai dari jumlah besar, tetapi dapat dilakukan dengan menyisihkan sebagian uang jajan secara rutin.

‎Melalui kegiatan tersebut, sekolah tidak hanya mengenalkan konsep menabung, tetapi juga membangun kebiasaan positif dalam mengelola uang sejak usia sekolah. Peserta didik diarahkan untuk belajar membedakan kebutuhan dan keinginan serta membangun sikap disiplin dan bertanggung jawab terhadap keuangan mereka.

‎Kerja sama dengan OTO Kas Bank Sulselbar turut mendukung pelaksanaan gerakan tersebut. Kehadiran layanan perbankan di lingkungan sekolah memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik mengenai pentingnya budaya menabung dan pengelolaan keuangan secara lebih terarah.

‎Kepala SD Negeri 218 Congkoe, Mariati, S.Pd., mengatakan gerakan tersebut sengaja dikembangkan dari kebiasaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

‎“Anak-anak tidak perlu menunggu memiliki uang dalam jumlah banyak untuk mulai menabung. Kami mengajarkan kepada mereka untuk menyisihkan sebagian uang jajannya setiap hari. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, kami berharap tumbuh sikap disiplin, hemat, dan bertanggung jawab,” ujar Mariati.

‎Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan baik peserta didik, termasuk dalam mengenalkan literasi keuangan. Karena itu, gerakan menabung diharapkan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan yang diterapkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

‎“Kami berharap gerakan ini dapat menjadi praktik baik yang bisa dikembangkan di sekolah lain. Konsepnya sederhana, tidak membutuhkan program yang rumit, tetapi membutuhkan konsistensi dan dukungan dari sekolah, orang tua, peserta didik, serta mitra,” tambahnya.

‎Gerakan gemar menabung SD Negeri 218 Congkoe menjadi contoh bahwa pendidikan karakter dan literasi keuangan dapat dimulai dari aktivitas sederhana. Dengan menyisihkan uang jajan secara rutin, peserta didik belajar bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk sikap positif dan bermanfaat bagi masa depan. (Azhar)