KACCA Jadi Senjata SDN 91 Bulupoddo Tumbuhkan Budaya Baca Sejak Dini

Peserta didik SD Negeri 91 Bulupoddo saat mengikuti kegiatan pembiasaan literasi KACCA (Kamis Cinta Baca) sebagai upaya menumbuhkan budaya membaca di lingkungan sekolah, Kamis (24/9/26).
KABARPENDIDIKAN.NET — Membentuk budaya literasi tidak selalu harus melalui kegiatan besar. SD Negeri 91 Bulupoddo menghadirkannya melalui pembiasaan sederhana namun konsisten bertajuk KACCA (Kamis Cinta Baca), Kamis (24/9/26)
Kegiatan KACCA menjadi salah satu upaya sekolah dalam menumbuhkan minat baca sekaligus membangun kebiasaan positif peserta didik untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari aktivitas belajar. Setiap Kamis, peserta didik mendapatkan ruang untuk membaca dan berinteraksi dengan berbagai bahan bacaan yang tersedia.
Program ini dirancang agar membaca tidak dipandang sebagai kewajiban semata, tetapi menjadi aktivitas yang menyenangkan dan dekat dengan keseharian peserta didik. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara rutin, sekolah berharap budaya membaca dapat tumbuh secara konsisten dan berkelanjutan.
Kepala SD Negeri 91 Bulupoddo, Hj. Kasniati, S.Pd., mengatakan KACCA merupakan langkah sekolah untuk menanamkan kecintaan terhadap membaca sejak dini.
“Melalui KACCA, kami ingin membangun kebiasaan membaca secara konsisten. Kami percaya bahwa ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, anak-anak akan lebih mudah mendapatkan pengetahuan dan memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar,” ujar Hj. Kasniati.
Menurutnya, penguatan budaya literasi tidak hanya tentang seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi juga bagaimana sekolah menciptakan suasana yang membuat peserta didik nyaman dan tertarik untuk membaca.
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa membaca itu menyenangkan. Karena itu, KACCA kami jadikan sebagai ruang untuk mendekatkan peserta didik dengan buku sekaligus mendorong mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman dari apa yang telah dibaca,” tambahnya.
Kegiatan KACCA juga menjadi ruang bagi guru untuk mendampingi peserta didik dalam membangun kebiasaan literasi. Aktivitas membaca dapat dikembangkan melalui berbagi cerita, menyampaikan kembali isi bacaan, maupun mendiskusikan pengetahuan yang diperoleh dari buku.
Praktik baik SD Negeri 91 Bulupoddo ini menunjukkan bahwa penguatan budaya literasi dapat dimulai dari program sederhana yang dilakukan secara rutin. Satu hari dalam sepekan, satu kebiasaan yang terus dijaga, dan satu langkah untuk mendekatkan peserta didik dengan dunia membaca.
Melalui KACCA, SD Negeri 91 Bulupoddo terus menanamkan bahwa membaca bukan sekadar kegiatan di sekolah, tetapi menjadi bekal penting untuk memperluas wawasan, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan mendukung proses belajar peserta didik. (Azhar)