Ekskul Tari Sipatuo Sipatokkong UPTD SMPN 7 Sinjai Hidupkan Nilai Persaudaraan dan Cinta Budaya

Ekskul Tari Sipatuo Sipatokkong UPTD SMPN 7 Sinjai Hidupkan Nilai Persaudaraan dan Cinta Budaya

Kabarpendidikan.net
— UPTD SMP Negeri 7 Sinjai terus memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat, kreativitas, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya melalui Ekstrakurikuler Tari Sipatuo Sipatokkong yang diikuti sebanyak 35 siswa.

Kegiatan tersebut dibimbing oleh pelatih, Hj. Sulastri, S.Pd., yang secara telaten mendampingi para siswa dalam menguasai setiap gerakan tari. Dengan kekompakan gerak, permainan kipas yang terbuka dan tertutup, serta iringan lagu Anging Mammiri, para siswa menampilkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya mengedepankan keindahan, tetapi juga membawa pesan tentang persaudaraan dan kebersamaan.

Tari Sipatuo Sipatokkong sarat dengan nilai filosofis. Sipatuo dimaknai sebagai harapan dan doa yang tulus, sementara Sipatokkong menggambarkan semangat kebersamaan dan saling menguatkan. Nilai tersebut tercermin dalam setiap gerakan para penari yang dituntut untuk bergerak serempak, saling menyesuaikan, dan tidak meninggalkan satu sama lain.

Kepala UPTD SMP Negeri 7 Sinjai, H. Nahiruddin, S.Pd., M.M., mengatakan kegiatan ekstrakurikuler menjadi salah satu ruang penting bagi siswa untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun karakter.

Menurutnya, melalui seni tari, siswa tidak hanya belajar tentang teknik gerakan, tetapi juga belajar mengenai disiplin, kekompakan, tanggung jawab, kerja sama, serta kecintaan terhadap budaya sendiri.

“Ketika 35 siswa bergerak dalam satu irama, kita melihat bagaimana kebersamaan menjadi kekuatan. Tidak ada yang berjalan sendiri. Semua harus saling menyesuaikan dan saling menguatkan. Nilai inilah yang penting untuk dibawa siswa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, UPTD SMP Negeri 7 Sinjai akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan positif yang dapat menjadi wadah bagi siswa untuk menemukan dan mengembangkan potensi mereka.

“Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan dari buku, tetapi juga tempat bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, percaya diri, kreatif, dan mencintai budaya daerahnya,” lanjut H. Nahiruddin.

Sementara itu, salah seorang anggota Ekstrakurikuler Tari Sipatuo Sipatokkong, Asyila Raiqah, siswi kelas 9.1, mengaku senang dapat menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Menurutnya, proses latihan tidak hanya mengajarkan gerakan tari, tetapi juga membuat para peserta belajar untuk kompak dan saling mendukung.

“Bagi kami, Tari Sipatuo Sipatokkong bukan hanya tentang bagaimana menampilkan gerakan yang indah. Kami belajar untuk disiplin, kompak, dan saling menguatkan. Kalau ada teman yang belum menguasai gerakan, kami saling membantu sampai bisa bergerak bersama,” ungkap Asyila.

Menurut Asyila, alunan Anging Mammiri juga memberikan pengalaman tersendiri bagi para penari. Lagu tersebut membuat mereka semakin merasakan nilai persaudaraan yang ingin disampaikan melalui tarian.

“Semoga kami bisa terus menjaga dan memperkenalkan budaya melalui tarian ini. Kami bangga bisa belajar budaya sendiri di sekolah,” tambahnya.

Alunan Anging Mammiri yang mengiringi tarian semakin memperkuat pesan tentang ikatan persaudaraan. Setiap langkah kaki, gerakan tubuh, dan permainan kipas menjadi bagian dari ekspresi kecintaan terhadap warisan budaya yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui Ekstrakurikuler Tari Sipatuo Sipatokkong, UPTD SMP Negeri 7 Sinjai ingin menjadikan seni dan budaya bukan sekadar kegiatan pertunjukan, tetapi juga sarana pembentukan karakter peserta didik.

Semangat Sipatuo Sipatokkong diharapkan dapat menjadi nilai yang hidup dalam keseharian warga sekolah: senantiasa berdoa dan berharap yang terbaik, sekaligus bersatu, saling menguatkan, dan bergerak bersama dalam memajukan sekolah.

“Semoga semangat kebersamaan ini terus tumbuh di lingkungan sekolah. Kita ingin membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, berakhlak, percaya diri, serta bangga terhadap budaya sendiri,” pungkas H. Nahiruddin. (tia)