![]() |
| Kepala UPTD SMPN 1 Sinjai, Syamsul Rijal mengampanyekan anti bullying bersama peserta didiknya. |
Kabarpendidikan.net – UPTD SMPN 1 Sinjai menghadirkan terobosan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif. Melalui program Sistem Jaringan Guru Advokasi Teman Anti Bullying (Si JAGA TA), sekolah ini berkomitmen menjadikan ruang belajar bebas dari perundungan, sekaligus menumbuhkan budaya positif berbasis kolaborasi.
Berbeda dari pendekatan lama yang hanya menempatkan penanganan bullying pada guru BK atau kesiswaan, Si JAGA TA menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan perundungan adalah tanggung jawab kolektif seluruh warga sekolah. Sistem ini dirancang dengan deteksi dini melalui pelibatan teman sebaya, pendampingan pelaku dan korban, serta peran advokasi guru.
Kepala UPTD SMPN 1 Sinjai, Syamsul Rijal, S.Pd.,MM mengatakan, inti dari program ini adalah sinergi antara Guru Advokat dan Jaringan Teman Anti Bullying. Guru Advokat adalah wali kelas yang dilatih khusus menjadi pendamping, mediator, sekaligus advokat bagi pelaku maupun korban.
Sementara itu, Jaringan Teman Anti Bullying diwakili oleh Duta Si JAGA TA, dimana dua siswa dari setiap angkatan yang berperan sebagai pengawas sebaya, sahabat perlindungan diri, dan jembatan informasi.
“Tujuan kami bukan sekadar menghentikan bullying, tetapi melindungi harga diri korban, membina perubahan perilaku pelaku, dan menciptakan sistem sekolah yang berpihak pada anak,” jelasnya, Senin (1/6/2026).
Transformasi ini juga melibatkan keluarga sebagai media sosialisasi. Orang tua diberi akses pengaduan melalui aplikasi RUBIK dan kotak fisik SAB, serta diajak memahami peran mereka dalam pengawasan mental anak. Di sekolah, layanan pengaduan hibrida, SOP penanganan kasus, edukasi anti-bullying, hingga deklarasi komitmen bersama dijalankan secara konsisten.
Selain itu, inovasi Si JAGA TA sejalan dengan visi Kabupaten Sinjai yakni, “Masyarakat Sinjai yang Maju, Sejahtera, Mandiri, dan Berkeadilan,". Dengan menghadirkan lingkungan belajar yang aman diyakini sebagai prasyarat lahirnya prestasi akademik optimal.
"Termasuk sistem penanganan kasus yang adil, rahasia, dan non-hukuman mencerminkan komitmen menegakkan nilai keadilan sejak tingkat sekolah," urainya.
Kemudian, Si JAGA TA menekankan bahwa penanganan bullying bukan soal hukuman, melainkan pembentukan karakter. Dua pendekatan utama diterapkan. Pertama, disiplin positif dengan membangun kesadaran diri dan empati, bukan kepatuhan berbasis ketakutan.
Kedua, keterampilan partisipasi dengan melibatkan murid sebagai agen perubahan melalui peran Duta Anti-Bullying, sehingga mereka belajar kepemimpinan, advokasi, dan keterampilan sosial.
Sehingga. dengan lingkungan yang aman dan suportif, SMPN 1 Sinjai percaya setiap murid dapat tumbuh tanpa rasa takut, menemukan panggungnya, dan memaksimalkan potensi diri.
"Si JAGA TA bukan hanya sistem, melainkan gerakan bersama untuk menyalakan harapan, menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang ramah, sportif, dan bebas perundungan," kuncinya. (redaksi)
