SAMI SAKU, Cara SMPN 21 Sinjai Tumbuhkan Budaya Baca Siswa Setiap Pekan ‎

Siswa UPTD SMP Negeri 21 Sinjai mengikuti program literasi SAMI SAKU (Satu Minggu Satu Buku) dengan membaca buku di luar kelas selama 40 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, Kamis (17/9/2026).

Kabarpendidikan.net
— UPTD SMP Negeri 21 Sinjai terus mendorong tumbuhnya budaya literasi di kalangan peserta didik melalui program SAMI SAKU (Satu Minggu Satu Buku). Program ini dilaksanakan secara rutin setiap hari Kamis sebelum proses pembelajaran dimulai.

‎SAMI SAKU memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca buku selama 1 jam pelajaran atau 40 menit. Kegiatan dilaksanakan di luar kelas sehingga suasana membaca terasa lebih santai sekaligus memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi peserta didik.

‎Dalam pelaksanaannya, siswa memilih dan membaca buku yang sesuai dengan minat serta tingkat perkembangannya. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga membangun kebiasaan siswa berinteraksi dengan buku secara rutin.

‎Kepala UPTD SMPN 21 Sinjai, Rasak, S.Pd., mengatakan program SAMI SAKU merupakan bagian dari upaya sekolah menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk gemar membaca.

‎“Kami ingin kegiatan literasi tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam diri siswa. Melalui SAMI SAKU, kami memberikan ruang kepada mereka untuk membaca secara rutin dan menikmati prosesnya,” ujar Rasak.

‎Menurutnya, konsistensi menjadi hal penting dalam membangun budaya literasi. Karena itu, sekolah menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda rutin setiap pekan sebelum siswa mengikuti pembelajaran di kelas.

‎Selain menambah wawasan, kebiasaan membaca diharapkan dapat membantu siswa memperkaya kosakata, meningkatkan pemahaman terhadap bacaan, serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap berbagai pengetahuan.

‎Pelaksanaan SAMI SAKU juga menjadi salah satu bentuk komitmen UPTD SMPN 21 Sinjai dalam menghadirkan kegiatan pembelajaran yang tidak terbatas pada ruang kelas.

‎Dengan membaca satu buku setiap minggu, sekolah berharap budaya literasi semakin mengakar dan menjadi bagian dari keseharian siswa, sehingga membaca tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan untuk terus belajar dan berkembang. (Azhar)